RANGKUMAN KESIMPULAN PEMBELAJARAN (KONEKSI ANTAR MATERI) MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
Oleh:
Dheny Kusdyantoro, M.Pd
CGP
A.11 Kota Pekanbaru
24-10-2024
Awal
pendidikan guru penggerak kami diingatkan kembali terkait filosofi pendidikan
menurut Ki Hadjar Dewantara, yang tidak terlupakan dan terpatri hingga sampai
pada modul 3.1 ini adalah dasar pendidikan yaitu ”berpihak kepada murid”.
Selanjutnya untuk bisa melayani pendidikan yang berpihak kepada murid guru
harus menjiwai nilai dan sadar akan peran penting profesi mulia ini, serta
memiliki visi diri yang kuat untuk bisa tergerak, bergerak, bahkan menggerakkan
komunitas sekolah, atau minima murid di dalam kelas. Semboyan yang kita pahami
terkait nilai, peran, dan visi guru dalam menuntun murid disebut Pratap Triloka
”Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya
mangun karsa, Tut wuri handayani”.
Selain
kapasitas diri sebagai guru, dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak kepada
murid juga dibutuhkan sebuah lingkungan yang kondusif, nyaman, aman dan positif
untuk tumbuh kembang murid. Guru secara kolaborasi di sekolah, harus bisa
menciptakan budaya positif dimana salah satu cirinya adalah adanya kesempatan
yang sama setiap murid untuk tumbuh dan berkembang di kelas/ sekolah. Misalnya
dalam pembelajaran guru harus memperhatikan kebutuhan belajar murid yang
beragam dan berbeda-beda, guru harus bisa melihat kebutuhan belajar murid dari
aspek kesiapan, minat, atau profil belajarnya. Semua kebutuhan tersebut bisa
dipenuhi oleh guru dengan penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.
Selain itu semua, murid juga butuh sejahtera dan bahagia psikologisnya di kelas
atau sekolah, maka guru juga harus memberikan pembelajaran terkait kompetensi
sosial dan emosional dalam pembelajaran.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam memberikan pelayanan pendidikan yang berpihak kepada murid di kelas atau sekolah, dalam implementasi dan aksi nyatanya harus secara holistik, yaitu kapasitas guru yang memiliki nilai, peran, dan visi yang kuat, menciptakan lingkungan yang positif, dan memberikan kebutuhan belajar secara fisik serta kesejahteraan psikologis.
Berikutnya sebagai pemimpin pembelajaran guru juga bisa mengasah keterampilan percakapan coaching untuk menggali potensi murid-muridnya. Selain guru, Kepala Sekolah juga sangat disarankan untuk meningkatkan keterampilan coaching dalam menggali dan mengembangkan potensi guru-gurunya, sehingga mampu memonitor guru untuk senantiasa melakukan upgrade/ pengembangan diri, melakukan refleksi evaluasi perbaikan untuk memastikan guru mampu memberikan pelayanan pendidikan yang berpihak kepada murid.
Kini sampailah pada modul 3.1 tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin, pada kesempatan ini saya akan berbagi informasi tentang materi tersebut, kaitannya dengan materi pada modul-modul sebelumnya melalui panduan pertanyaan dari LMS.
PANDUAN PERTANYAAN UNTUK MEMBUAT RANGKUMAN KESIMPULAN PEMBELAJARAN (KONEKSI ANTAR MATERI)
Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
"Pratap Triloka filosofi Ki Hajar Dewantara dapat menjadi landasan kuat bagi pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan yang bijaksana, yaitu: ”Ing ngarso sung tuladha” dalam pengambilan keputusan, harus menunjukkan komitmen terhadap nilai-nilai kebajikan universal yang diyakini dan konsisten. ”Ing madya mangun karsa” dalam pengambilan keputusan, harus kolaborasi dengan orang lain melalui proses diskusi/ musyawarah. ”Tut wuri handayani” dalam pengambilan keputusan, harus siap memberikan dukungan dan bimbingan".
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
"Nilai-nilai kebajikan yang sudah tertanam dalam diri kita pasti secara sadar atau tidak sadar akan mempengaruhi perilaku kita, termasuk dalam pengambilan keputusan yang bijaksana. Hal ini karena terdapat hubungan antara nilai-nilai yang diyakini, prinsip/ mindset, karakter, tindakan pribadi, rasa tanggung-jawab dari konsekuensi keputusan, kita sebagai pengambil keputusan".
Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya!
"Menurut pendapat saya dalam konsep pengambilan dan pengujian keputusan yang terdiri dari 9 langkah, setiap langkahnya dapat ditanyakan oleh, apakah sebagai pengawas/ pendamping, fasilitator kepada pengambil keputusan melalui percakapan coaching perencanaan. Diharapkan potensi diri keluar maksimal dalam percakapan coaching yang mengalir tersebut, sehingga dapat menggali pemikiran lebih dalam dan jernih, serta bijaksana dalam mengambil keputusan dilema etika. Ketika sudah diputuskan, percakapan coaching refleksi dan vibrasi mampu menghantar coachee melakukan evaluasi meninjau ulang keputusan dan tindak lanjutnya".
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
"Menurut pendapat saya kemampuan guru dalam mengelola kompetensi sosial dan emosional sangat berpengaruh terhadap kualitas putusan, khususnya situasi dilema etika. Misalnya dengan 'kesadaran diri' mampu menghindari kepentingan pribadi dalam pengambilan keputusan, kemampuan “manajemen diri” akan mampu berfikir jernih dan objektif dalam pengambilan keputusan, selanjutnya kemampuan 'pengambilan keputusan yang bertanggung jawab' akan mampu mempertimbangkan segala aspek, siap atas konsekuensi, dan bisa mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal".
Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
"Menurut pendapat saya pembahasan studi kasus jika masalah bujukan moral, antara benar dan salah maka tidak perlu dilanjutkan lagi, karena sudah jelas tidak sesuai dengan nilai-nilai kompetensi seorang pendidik. Namun jika studi kasus benar lawan benar atau dilema etika, dapat dilanjutkan pada pengujian keputusan 9 langkah dengan mengidentifikasi nilai-nilai kebajikan yang saling bertentangan. Selanjutnya dengan memahami nilai-nilai yang dianut dan menerapkan prinsip-prinsip etika, pendidik dapat menjadi role model yang baik bagi murid dan menciptakan lingkungan belajar yang positif dan kondusif".
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?
"Menurut pendapat saya pengambilan keputusan yang tepat, yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman adalah keputusan yang berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal, berpihak kepada penerima keputusan, melalui diskusi melibatkan semua kepentingan, dan bertanggung-jawab atas dampak konsekuensinya. Terakhir, bersedia meninjau ulang hasil keputusan, jika dirasa dampaknya tidak sesuai harapan".
Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
"Tantangan-tantangan di lingkungan sekolah dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika yang pernah saya hadapi adalah tekanan dari individu atau kelompok kepentingan yang ingin diakomodir dalam putusan, terjadi pertentangan batin antara nilai-nilai kebajikan dalam dilema etika yang keduanya benar, dan dalam diskusi melibatkan pihak yang berkepentingan sebelum pengambilan keputusan rawan terjadi konflik. Hal ini bisa saja terjadi karena perubahan paradigma di lingkungan sekolah saya, dimana selama ini putusan yang diambil adalah biasanya yang populis, mengakomodir kelompok besar, atau keadilan yang masih bersifat kaku tanpa melihat lebih dalam makna keadilan itu sendiri".
Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
"Menurut pendapat saya sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, jika salah satu dasar dalam pengambilan keputusan adalah berpihak kepada kepentingan murid, maka akan berdampak positif bagi pembelajaran murid di kelas. Misalnya pengambilan keputusan menggunakan metode pendekatan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial dan emosional akan mampu berdampak dalam memenuhi kebutuhan belajar murid di kelas, baik dari aspek kesiapan, minat, dan profil belajar mereka, sehingga potensi yang berbeda-beda memiliki kesempatan tumbuh yang sama di kelas".
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
"Pendapat saya pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya adalah keputusan yang memberi ruang/ kesempatan yang sama bagi setiap murid untuk tumbuh kembang sesuai potensi minat bakatnya. Selain itu sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, kita harus juga menumbuh-kembangkan keterampilan-keterampilan yang akan dipakai bagi murid di masa depan, misalnya keterampilan abad 21, kompetensi sosial dan emosional, dll. Terakhir, menanamkan nilai-nilai kebajikan universal sebagai dasar perilaku mereka di kehidupan. Minimal ketiga poin tersebut dapat kita wujudkan di lingkungan sekolah, saya yakin akan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan mereka".
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
"Kesimpulan akhir dari modul 3.1 adalah dasar pengambilan keputusan ada 3 yaitu, berpihak kepada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab. Selanjutnya dalam mengambil keputusan dilema etika harus memperhatikan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian. Keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah dalam pengambilan keputusan sesuai dengan dasar pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu berpihak kepada murid, berikutnya penting menyadari nilai, peran, dan visi guru pengerak yang dapat diejawantahkan dalam pengambilan keputusan yang baik. Keputusan yang baik, berpihak kepada murid, berdasarkan nilai-nilai universal, dan bertanggung-jawab akan mampu menumbuhkan budaya positif di kelas/ sekolah. Terakhir sebagai pemimpin pembelajaran dapat membuat keputusan yang berpihak kepada kebutuhan belajar murid dengan pembelajaran berdiferensiasi, sosial dan emosional, serta menggunakan percakapan coaching untuk menggali potensi murid".
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
"Pemahaman tentang konsep pengambilan keputusan, terutama dilema etika yang terdiri dari 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian keputusan, saya mendapatkan pengalaman yang tidak terduga, antara lain ternyata pengambilan keputusan merupakan keterampilan yang bisa diasah kemampuannya dengan semakin sering berlatih mengambil keputusan yang sistematis. Selanjutnya dalam pengambilan keputusan dilema etika, ternyata keputusan yang dipilih tidak mungkin menyenangkan semua pihak yang berkepentingan, kita harus siap dan bertanggung jawab apa yang sudah diputuskan, menghadapi situasi ini merupakan sikap diluar dugaan juga".
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
"Pernah, tetapi berbeda dengan setelah mempelajari modul ini, sebelumnya saya mengambil keputusan tidak terstruktur sistematis, mungkin hanya melihat aturan sekolah dan pertimbangan psikologis saja. Tetapi setelah mempelajari modul ini memberikan wawasan baru bagi saya, ternyata dalam pengambilan keputusan bisa dilakukan secara sistematis, terutama kasus dilema etika, sehingga bisa menjadi rangka acuan bagi saya kedepan sebagai pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan yang lebih bijaksana dengan melakukan 9 langkah pengujian hingga refleksi evaluasi".
Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
"Setelah mempelajari modul ini yang pasti saya bisa membedakan antara kasus bujukan moral dan dilema etika, selanjutnya dalam pengambilan keputusan terkait dilema etika harus memperhatikan 3 dasar pengambilan keputusan, identifikasi 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian keputusan. Sehingga secara umum dengan mempelajari modul ini dapat menambah keterampilan saya sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan dilema etika yang terstruktur dan sistematis".
Terakhir, seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
"Pemahaman tentang konsep pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan universal sebagai pemimpin pembelajaran sangat penting karena:
Pertama: secara
individu menyadari pentingnya memperkuat nilai-nilai kebajikan universal yang
diyakini karena akan berpengaruh terhadap perilaku/ tindakan diri yang
berdampak terhadap orang lain.
Kedua: sebagai
seorang pemimpin pembelajaran sangat penting menguasai keterampilan pengambilan
keputusan yang berpihak kepada kebutuhan murid, sehingga murid akan menerima
dampak positif dari keputusan tersebut, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan
belajar supaya semua potensi setiap murid tereksplore".
Terima
kasih, salam guru penggerak
”TERGERAK,
BERGERAK, MENGGERAKKAN”













