Pages

Minggu, 25 Agustus 2024

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

 


Oleh:

Dheny Kusdyantoro, M.Pd

Sumber: LMS Pendidikan Calon Guru Penggerak


Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang paling ideal untuk memenuhi kebutuhan belajar murid. Pembelajaran berdiferensiasi juga sangat sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang dasar pendidikan yaitu berpihak pada murid.

Kebutuhan belajar murid adalah kesenjangan antara tujuan belajar yang akan dicapai murid dengan kesiapan, minat dan profil belajar murid saat sebelum memulai materi pembelajaran. Kebutuhan belajar murid dapat dipetakan dengan melihat 3 aspek, yaitu: kesiapan belajar murid, minat belajar murid dan profil belajar murid. Kebutuhan belajar ini menjadi dasar untuk melakukan kegiatan pembelajaran berdiferensiasi.

Selanjutnya strategi apa yang bisa Guru lakukan dalam kegiatan pembelajaran berdiferensiasi? Tiga strategi pembelajaran berdiferensiasi yang dapat dilakukan Guru di kelas, antaralain:

1.    Diferensiasi konten

Bagaimana melakukan diferensiasi konten? Konten adalah muatan materi yang kita ajarkan kepada murid di kelas, konten sebagai tanggapan respon atas kesiapan, minat atau profil belajar murid yang berbeda. Mengukur kesiapan murid bisa menggunakan equalizer berdasarkan pendapat Tomlinson. Diferensiasi konten juga bisa dilaksanakan berdasarkan minat murid, misalnya saat belajar teks narasi, Guru menyiapkan teks dengan hal-hal yang digemari murid. Sedangkan diferensiasi konten berdasarkan profil belajar murid dapat dilakukan dengan memastikan murid mengakses materi ajar sesuai dengan gaya belajarnya visual/ auditori/ kinestetik.

2.    Diferensiasi proses

Bagaimana murid memahami/ memaknai materi melalui skenario pembelajaran yang Guru rancang. Bagaimana cara melakukan diferensiasi proses? Misalnya: pertama, kegiatan berjenjang, setiap murid membangun pemahaman yang sama tetapi diberi tantangan yang berbeda tingkat kompleksitasnya sesuai kesiapan belajarnya. Kedua, pertanyaan pemandu atau tantangan yang perlu diselesaikan disudut-sudut minat sesuai hobi murid. Ketiga, membuat agenda individual misalnya, tugas umum satu kelas dan tugas sesuai kebutuhan individual. Kempat, memvariasikan lama waktu untuk murid ambil dalam menyelesaikan tugas. Kelima, mengembangkan kegiatan bervariasi yang mengakomodir beragam gaya belajar murid visual/ auditori/ kinestetik. Keenam, menggunakan pengelompokan yang fleksibel sesuai kesiapan, kemampuan dan minat.

3.    Diferensiasi produk

Tagihan apa yang kita harapkan dari murid, produk merupakan hasil pekerjaan/ unjuk kerja yang ditunjukkan murid kepada Guru, misalnya dalam bentuk karangan atau tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dll. Bagaimana cara mendiferensiasi produk? Menggambarkan yang sudah dipelajari murid dalam satu unit, satu semester bahkan satu tahun/ produk mewakili pemahaman murid. Diferensiasi produk pada dasarnya terbagi dua, yaitu: pertama, memberikan tantangan dan keragaman/ variasi. Kedua, memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan. 

Setelah memahami aspek apa saja terkait kebutuhan belajar murid dan strategi penerapan pembelajaran, selanjutnya untuk kelancaran dalam proses pembelajaran, maka diperlukan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi tersebut.

Apa yang dapat kita lakukan sebagai Guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi? Pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun berdasarkan learning community (komunitas belajar), yaitu komunitas yang semua anggotanya adalah pemelajar.

Careel dan Tomlinson dalam modul 2.1 pendidikan Guru Penggerak memberikan gambaran karakter komunitas tersebut:

  1. Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik;
  2. Ruang kelas akan dipenuhi oleh berbagai pekerjaan murid atau berbagai hal dimana murid    berperan di dalamnya;
  3. Setiap orang di dalam kelas tersebut saling menghargai;
  4. Guru membimbing murid agar perasaan siapapun di kelas tidak menjadi kecil akibat perbedaan;
  5. Murid akan merasa aman secara fisik dan psikis;
  6. Ada harapan bagi pertumbuhan, pertumbuhan satu murid adalah sebuah perayaan;
  7. Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan;
  8. Guru merancang pembelajaran yang sedikit melampaui apa yang murid ketahui saat ini, sehingga murid keluar dari zona nyaman dengan sedikit tantangan dan Guru membantu membimbing tantangan tersebut (scafoding);
  9. Ada keadilan dalam bentuk yang nyata, berusaha memastikan semua murid mendapatkan apa        yang dia butuhkan untuk tumbuh dan sukses; dan
  10. Guru dan siswa berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama.

Berikutnya apa peran asessmen/ atau penilaian dalam pembelajaran berdiferensiasi? Hakikatnya fungsi Guru melakukan asessmen terhadap murid adalah untuk menemukan kebutuhan belajar muridnya, yaitu terkait kesiapan, minat, dan profil belajarnya. Tanpa mengetahui kebutuhan belajar murid, akan sulit bagi Guru untuk bisa memberikan pengalaman belajar yang tepat untuk murid-muridnya.

Di dalam kelas, kita dapat memandang penilaian dalam 3 perspektif, yaitu:

1.    Assessment for learning

Penilaian yang dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran dan biasanya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berfungsi sebagai penilaian formatif.

2.    Assessment of learning

Penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Berfungsi sebagai penilaian sumatif

3.    Assessment as learning

Penilaian sebagai proses belajar dan melibatkan murid-murid secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut. Berfungsi sebagai penilaian formatif

 

Dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi, penilaian formatif memegang peranan yang sangat penting. Penilaian formatif dilakukan saat proses pembelajaran masih berlangsung. Penilaian formatif ini bersifat memonitor proses pembelajaran, dan dilakukan secara berkelanjutan serta konsisten, sehingga akan membantu Guru untuk memantau pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan murid yang berkembang terkait dengan topik atau materi yang sedang dipelajari.

Hasil dari penilaian ini akan menjadi sumber yang sangat berharga untuk mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid.

Bagaimana cara Guru melakukan penilaian formatif dengan sederhana? Pilihlah minimal satu cara di bawah, yang dapat dipertimbangkan lebih efektif dengan memperhatikan ketersediaan waktu jam pelajaran:

  • Tiket keluar: Guru memberikan pertanyaan yang diajukan kepada semua murid sebelum kelas berakhir.
  • Tiket masuk: Guru juga bisa memberikan sebuah pertanyaan kepada semua murid sebelum pelajaran dimulai.
  • Berbagi 30 detik: murid secara bergiliran berbagi apa yang telah ia pelajari dalam pelajaran selama 30 detik.
  • Nama dalam toples: Guru bisa meminta murid menulis nama mereka di selembar potongan kertas & kemudian memasukkannya dalam toples. Guru kemudian bisa mengajukan sebuah pertanyaan tentang konsep kunci yang sedang dipelajari, kemudian secara random mengambil sebuah potongan kertas di toples.
  • Model 3-2-1: 3 hal yang tidak murid ketahui sebelumnya, 2 hal yang mengejutkan murid tentang topik tersebut, 1 hal yang ingin murid mulai lakukan dengan apa yang telah dipelajari.
  • Refleksi: Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman murid dan apa yang masih menjadi kebingungan mereka.
  • Pojok pemahaman: Minta murid pergi ke pojok-pojok kelas sesuai dengan pemahaman mereka.
  • Strategi 5 jari: Minta murid mendeskripsikan pemahaman mereka terkait topik yang diajarkan dengan menggunakan 5 jari. 5 jika mereka sudah paham sekali, 1 jika mereka tidak paham sama sekali.

Terakhir, dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi memang tidak semudah dengan memahami konsepnya, terdapat berbagai kendala agar mencapai posisi ideal dan benar-benar bisa memenuhi kebutuhan belajar murid di kelas, misalnya dalam mengakomodir profil belajar murid terkait gaya belajar visual, auditori dan kinestetik dalam strategi pembelajaran berdiferensiasi proses. Dengan memahami diferensiasi proses yang identik dengan metode belajar yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan belajar murid, jika di kelas terdapat 3 gaya belajar yang berbeda, maka efektifitas belajar sulit terwujud jika Guru hanya menggunakan satu metode pembelajaran saja untuk mengakomodir semua kebutuhan murid. Butuh variasi ragam kegiatan pembelajaran lintas metode untuk mengakomodir gaya belajar murid di topang dengan nilai-nilai dan peran kreativitas Guru.

 

Selamat mencoba, demi pendidikan yang berpihak kepada murid, murid dan murid.


0 comments:

Posting Komentar