Diterbitkan : 24 Agustus 2024
Sumber : LMS Guru Penggerak Modul 1.4 Budaya Positif
Penulis : Dheny Kusdyantoro, M.Pd., CGP A11, Kota Pekanbaru, Propinsi Riau
Tempat : SMP Negeri 32 Pekanbaru
PEMAHAMAN
KONSEP BUDAYA POSITIF
Ki Hadjar
Dewantara menggambarkan dalam menuntun murid seperti seorang petani yang harus
memastikan lingkungan dan kondisi tanah cocok untuk tumbuh kembang tanamannya.
Hal yang sama dengan lingkungan kelas/ sekolah harus kondusif, nyaman, suasana
lingkungan yang positif sehingga mampu menumbuhkembangkan nilai-nilai kebajikan
murid agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia atau anggota
masyarakat. Oleh karena itu, menciptakan budaya positif di sekolah sangatlah
penting untuk mampu mengembangkan murid dengan nilai-nilai kebajikan sesuai
profil pelajar Pancasila, yaitu beriman bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak
mulia, berkhebinekaan global, gotong royong, mandiri, kreatif dan bernalar
kritis.
Selanjutnya,
bagaimanakah cara untuk mewujudkan budaya positif di sekolah? Budaya positif
dapat diawali dengan melakukan penerapan disiplin positif di kelas-kelas. Dalam
disiplin positif murid diposisikan agar belajar dari kesalahan-kesalahan
terkait tindakan/ perilaku melanggar kesepakatan bersama. Hal ini sesuai arti
kata disiplin sendiri yang berasal dari bahasa Latin, yaitu ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’.
Selain itu, pendekatan ini selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang
dasar pendidikan yaitu pelayanan yang berpihak kepada murid.
Strategi
mewujudkan displin positif di kelas maupun di sekolah memiliki tahapan
penerapannya, berangkat dari sosialisasi pemahaman bersama warga sekolah tentang
perubahan paradigma belajar dari teori stimulus respon ke teori kontrol Dr.
William Glasser, memahami makna disiplin positif dan nilai-nilai kebajikan
universal, memahami motivasi perilaku manusia, memahami kebutuhan dasar
manusia, mampu mengubah peraturan-peraturan kelas/ sekolah menjadi nilai-nilai
keyakinan kelas/ sekolah, mengerti posisi kontrol Guru yang lebih berpihak
kepada murid, dan mampu menyelesaikan masalah murid/ tindakan melanggar
keyakinan kelas/ sekolah dengan pendekatan segitiga restitusi.
SMP Negeri 32
Pekanbaru tentunya selama ini telah berusaha menumbuhkan lingkungan sekolah
yang positif dengan adanya “buku saku murid” yang berisi tata tertib dan
aturan-aturan disiplin dan interaksi sosial dalam rangka membentuk nilai-nilai
kebajikan dari profil pelajar Pancasila. Namun, setelah mempelajari modul 1.4
budaya positif sekolah, Saya berfikir perlu melakukan refleksi apakah konsep
selama ini yang berjalan sesuai dengan asal kata disiplin yang sebenarnya atau
hanya berupa kumpulan aturan-aturan yang disertai hukuman dalam bentuk sesuai
keinginan Guru yang menangani? Apakah posisi kontrol Guru selama ini sudah
sesuai konsep berpihak kepada murid? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang
sangat perlu didiskusikan bersama oleh seluruh warga sekolah.
Berdasarkan
penjelasan di atas, maka dipikir perlu untuk melakukan pengimbasan pemahaman
konsep budaya positif di lingkungan sekolah, agar penegakan disiplin di kelas
maupun sekolah berjalan sesuai konsep teori kontrol dan yang terpenting mampu
memberikan pelayanan terbaik, lebih berpihak kepada murid.
Perubahan
Paradigma Belajar
Terjadi pergeseran dari teori stimulus respon menjadi
teori kontrol Dr. William Glasser. Beberapa pernyataan terkait teori kontrol, “Anda tidak bisa mengontrol oranglain, hanya
Anda yang bisa mengontrol diri Anda” pernyataan ini memunculkan makna
disiplin baru yaitu belajar kontrol diri dengan menggali potensi kita menjadi
seseorang yang kita inginkan berdasarkan nilai-nilai yang kita hargai.
“Semua
perilaku memiliki tujuan” dengan
memahami teori motivasi, yaitu menumbuhkan manusia berperilaku untuk menghargai
diri sendiri, akan mampu mewujudkan motivasi intrinsik yang berasal dari
nilai-nilai kebajikan universal yang diyakini.
Berikutnya “model
berfikir menang-menang”, “kolaborasi dan konsensus, menciptakan pilihan-pilhan
baru” terwujud dengan memahami 5 posisi kontrol. Dalam rangka menumbuhkan
motivasi intrinsik maka posisi kontrol yang sangat dianjurkan adalah sebagai ‘manajer’
dengan pendekatan segitiga restitusi dalam penyelesaian masalah melanggar
disiplin.
Terakhir “realitas
(kebutuhan) kita berbeda”, “kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang
dunia”, “setiap orang memiliki gambaran berbeda” dapat terwujud dengan
memahami 5 kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan ini juga difasilitasi dalam
tahapan segitiga restitusi.
Jadi kesimpulannya adalah teori kontrol lebih tepat
untuk menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah, selain itu selaras
dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang dasar pendidikan yang berpihak
kepada murid.
Disiplin Positif dan Nilai
Kebajikan Universal
Disiplin positif adalah salah satu cara mewujudkan
budaya positif kelas atau sekolah, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat
utamanya adalah “ada disiplin yang kuat”. Disiplin yang dimaksud adalah
disiplin diri, yang berasal dari motivasi intrinsik.
Guru dapat berperan dalam menciptakan budaya postitif
di kelas maupun di sekolah dengan melakukan penegakan disiplin positif kepada
murid yang berasal dari kesadaran akan nilai-nilai kebajikan universal yang
dipercaya kelas atau sekolah. Biarkan murid belajar dari kesalahan yang mereka
lakukan, dan belajar memperbaiki berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal
tersebut.
Lantas apa itu nilai-nilai kebajikan universal? yaitu
nilai-nilai kebajikan/ karakter yang dipilih ditentukan dan diyakini/
disepakati oleh seluruh warga sekolah, biasanya tertulis dalam visi sekolah
yang berasal dari dimensi dan elemen profil pelajar Pancasila.
Teori Motivasi, Hukuman dan
Penghargaan, Restitusi
Semua perilaku manusia memiliki tujuan, tujuan
tersebut menurut Diane Gossen terbagi menjadi tiga, yaitu, pertama manusia berperilaku untuk menghindari ketidaknyamanan/
hukuman, kedua manusia berperilaku
untuk mendapatkan imbalan/ penghargaan dari orang lain, dan ketiga manusia berperilaku untuk menjadi
orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang
mereka percaya.
Perilaku melanggar nilai-nilai keyakinan kelas maupun sekolah yang dilakukan murid juga pasti didasari oleh motivasi yang menyertainya sesuai paparan di atas. Oleh karena itu, sebagai Guru kita dapat merespon perilaku murid tersebut dalam kategori penegakan disiplin mengarah identitas gagal dan penegakan disiplin identitas sukses (disiplin positif). Identitas gagal berupa tindakan hukuman dan penghargaan, sedangkan identitas sukses yang harus dipilih Guru adalah melakukan respon dengan tindakan restitusi, minimal konsekuensi. Restitusi adalah respon Guru terhadap perilaku murid dengan menjadikan kesalahan sebagai proses belajar, murid menyadari kesalahan dan mampu memberikan solusi atau ide, gagasan untuk mengatasi keadaan sendiri. Sedangkan konsekuensi merupakan kumpulan peraturan-peraturan kelas/ sekolah yang bentuk konsekuensinya sudah diketahui dan disepakati oleh murid beserta warga sekolah. Selanjutnya dalam rangka mewujudkan budaya positif di kelas maupun sekolah, maka respon Guru yang sangat dianjurkan dalam penegakan disiplin adalah restitusi.
Keyakinan Kelas
Keyakinan kelas
itu berbeda dengan peraturan kelas, keyakinan kelas bersifat abstrak daripada
peraturan yang lebih rinci dan konkrit. Peraturan-peraturan kelas dapat diambil
nilai-nilai kebajikan universalnya untuk menjadi sebuah keyakinan kelas. Jadi,
nilai-nilai kebajikan yang ingin ditumbuhkan atau menjadi visi sekolah dapat
menjadi landasan dalam membuat keyakinan kelas maupun sekolah.
Dalam konteks
menciptakan budaya positif kelas maupun sekolah, peran Guru dapat mendorong
murid untuk membuat peraturan-peraturan yang disepakati bersama, menemukan
nilai-nilai kebajikan setiap peraturan tersebut untuk dijadikan sebuah
keyakinan kelas/ sekolah. Selanjutnya keyakinan kelas/ sekolah yang sudah
terbentuk bisa menjadi landasan dalam penegakan disiplin positif sekolah.
Kebutuhan Dasar Manusia dan
Dunia Berkualitas
Kebutuhan dasar manusia menurut Dr. William Glasser
terbagi menjadi 5, yaitu: kebutuhan bertahan hidup, kebutuhan kasih sayang dan
rasa diterima, kebutuhan pengakuan atas kemampuan/ penguasaan, kebutuhan akan
pilihan/ kebebasan, dan kebutuhan untuk merasa senang/ kesenangan.
Jadi, semua perilaku manusia termasuk perilaku baik buruk
pasti dalam rangka memenuhi salah satu kebutuhan dasar tersebut, termasuk
murid-murid kita di kelas maupun sekolah. Dalam konteks penegakan disiplin
positif untuk mewujudkan budaya positif di kelas maupun sekolah, Guru harus
senantiasa menggali informasi membudayakan dialog mencari tahu alasan dibalik
perilaku melanggar murid. Hal ini penting untuk mendeteksi kebutuhan dasar apa
yang belum terpenuhi murid hingga berdampak pada perilaku melanggar nilai-nilai
kebajikan yang sudah disepakati bersama.
Selanjutnya Guru wajib menuntun/ mengarahkan murid
memenuhi kebutuhan dasarnya dengan cara yang positif, supaya peran Guru bisa
menjadi dunia berkualitas/ mendapatkan tempat khusus dalam pikiran murid.
Posisi Kontrol - Restitusi
Lima posisi
kontrol Guru dalam rangka penegakan disiplin di kelas maupun sekolah adalah: posisi
kontrol sebagai penghukum, sebagai pembuat merasa bersalah, sebagai teman,
sebagai pemantau, dan posisi kontrol sebagai manajer.
Dalam rangka
penegakan disiplin positif untuk mewujudkan budaya positif di kelas maupun
sekolah, posisi kontrol restitusi yang ideal, terbaik dan sangat dianjurkan
adalah sebagai manajer, karena akan melahirkan murid dengan karakter tanggung
jawab, mandiri, serta merdeka. Sementara posisi kontrol yang harus dihindari
adalah sebagai penghukum dan pembuat merasa bersalah, karena merupakan perilaku
kontrol negatif yang berakibat pada identitas gagal pada murid.
Segitiga
Restitusi
Cara menerapkan
posisi kontrol sebagai manajer di atas, yaitu dengan pendekatan segitiga
restitusi. Guru menerapkan tiga langkah dalam menangani perilaku/ sikap murid
yang melanggar keyakinan kelas/ sekolah. Tiga tahapan tersebut adalah diawali menstabilkan
identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan kelas/
sekolah.
Jika murid
melakukan pelanggaran dari nilai-nilai kebajikan universal/ keyakinan kelas
yang sudah disepakatai bersama, maka proseslah menggunakan pendekatan segitiga
restitusi. Proses ini akan menumbuhkan karakter murid yang mandiri, tanggung
jawab dan merdeka. Karena murid dilatih belajar dari kesalahan-kesalahan, dan
mampu menyelesaikan masalah yang berasal dari ide, gagasaan sendiri.
Akhirnya
kesimpulan terakhir yang dapat Saya sampaikan adalah dengan posisi kontrol
sebagai manajer dengan cara menerapkan segitiga restitusi di kelas maupun
sekolah, merupakan pendekatan pilihan utama dalam penegakan disiplin positif agar
terwujud budaya positif di sekolah.
Selanjutnya, Saya akan menunjukkan contoh demonstrasi segitiga restitusi dalam menangani murid yang melanggar nilai-nilai keyakinan kelas dalam bentuk video, melalui link YouTube pribadi berikut: https://youtu.be/dBQecBk7Ors
Demikian paparan materi inti yang Saya diseminasi kepada rekan sejawat di lingkungan SMP Negeri 32 Pekanbaru. Berdasarkan hasil refleksi dan diskusi tanya jawab, banyak yang menyadari bahwa keyakinan kelas yang selama ini dibuat perlu direvisi dengan menggali nilai-nilai kebajikannya, selanjutnya Guru masih belum mencapai posisi kontrol sebagai manajer, bahkan ada yang menyadari selama ini banyak sebagai penghukum dan pembuat merasa bersalah terhadap penegakan disiplin kelas maupun sekolah.
Selanjutnya demi mewujudkan terciptanya budaya positif di lingkungan SMP Negeri 32 Pekanbaru, maka diperlukan komitmen bersama untuk bisa berubah sesuai konsep teori kontrol Dr. William Glasser agar sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara tentang dasar pendidikan, yaitu berpihak kepada murid, murid dan murid.
AKSI
NYATA MEMBUAT KEYAKINAN KELAS
Selanjutnya, Saya akan menunjukkan contoh aksi nyata dalam bentuk video, bagaimana cara/ langkah-langkah Guru dalam memimpin diskusi membentuk keyakinan kelas melalui link video YouTube berikut, semoga lebih memahami: https://youtu.be/gPUx3FBYDKI
1. Latar Belakang
Budaya positif di SMP Negeri 32 Pekanbaru belum
terwujud secara maksimal, hal ini bisa terjadi kemungkinan warga sekolah belum
memahami konsep inti budaya positif, yang terdiri dari perubahan paradigma
belajar dari teori stimulus respon menjadi teori kontrol Dr. William Glasser,
pemahaman disiplin positif
dan nilai kebajikan universal, pemahaman teori motivasi, hukuman dan
penghargaan, restitusi. Berikutnya belum memahami dengan benar langkah-langkah
membuat keyakinan kelas, belum memahami kebutuhan dasar manusia dan dunia
berkualitas, belum memiliki pilihan posisi kontrol - restitusi, dan belum
menguasai keterampilan penanganan perilaku melanggar murid dengan tahapan
segitiga restitusi.
Minimnya pemahaman konsep teori kontrol
tersebut hingga berdampak pada lingkungan sekolah yang belum mengakomodir pelayanan
pendidikan yang berpihak kepada murid, khususnya dalam penegakan disiplin
positif di kelas maupun sekolah.
Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu
dilaksanakan sebuah aksi nyata dalam bentuk diseminasi/ pengimbasan pemahaman
kepada rekan sejawat di lingkungan SMP Negeri 32 Pekanbaru, agar mampu
kolaborasi bersama, bergerak menumbuhkan budaya positif sekolah melalui konsep
dan teori yang benar.
2.
Tujuan
Adapun tujuan tindakan
aksi nyata, sebagai berikut: (1) meningkatkan pemahaman
rekan sejawat terkait budaya positif sekolah, konsep dan teori pendukungnya,
serta tahapan penerapannya, sehingga layanan pendidikan yang berpihak kepada
murid terwujud; (2) terbentuknya motivasi internal murid
melalui penegakan disiplin positif di kelas maupun di sekolah dengan pendekatan
segitiga restitusi; (3) terwujudnya budaya positif kelas dan
sekolah.
3.
Tolok Ukur
Adapun tolok ukur tindakan aksi nyata, sebagai berikut:
(1) terlaksananya desiminasi
pemahaman budaya positif di sekolah, terkait konsep, teori pendukung dan
tahapan penerapannya secara kontekstual; (2) terciptanya keyakinan kelas, melalui kesepakatan wali
kelas dengan murid; (3) warga
sekolah saling kolaborasi dan konsisten dalam menegakan disiplin positif,
berdasarkan landasan keyakinan kelas dan keyakinan sekolah yang sudah
disepakati bersama; dan (4) posisi kontrol Guru sudah sebagai manajer dalam mengontrol
murid, serta mampu melakukan pendekatan segitiga restitusi dalam menyelesaikan
perilaku melanggar murid terhadap keyakinan kelas/ sekolah.
4.
Linimasa Tindakan yang Akan Dilakukan
Linimasa tindakan yang akan dilakukan terdiri dari: (1) koordinasi dengan Kepala Sekolah sekaligus ketua komunitas
belajar bijak bestari SMP Negeri 32 Pekanbaru; (2) melakukan
desiminasi konsep budaya positif dengan contoh yang kontekstual di kelas maupun
sekolah; dan (3) wali kelas bersama murid
membuat keyakinan kelas dan menempelkannya di dinding kelas atau grup WA kelas.
5.
Dukungan yang Dibutuhkan
Dukungan yang dibutuhkan dalam melakukan tindakan aksi
nyata: (1) Kepala
Sekolah sekaligus Ketua komunitas belajar SMP Negeri 32 Pekanbaru; (2) Wakasek
Kesiswaan, seluruh Wali Kelas dan Guru Bimbingan Konseling; (3) rekan
sejawat sesama Guru; (4) murid; dan (5) sarana prasarana membuat
keyakinan kelas/ sekolah, antara lain papan tulis, spidol, kertas tempel,
aplikasi canva, percetakan poster, dll.
Terakhir, Saya akan menunjukkan dokumentasi video aksi nyata diseminasi/ pengimbasan pemahaman budaya positif di lingkungan SMP Negeri 32 Pekanbaru, melalui link YouTube berikut, semoga menginspirasi: https://youtu.be/hpLxDxy8odk












0 comments:
Posting Komentar