Pages

Minggu, 25 Agustus 2024

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

 


Oleh:

Dheny Kusdyantoro, M.Pd

Sumber: LMS Pendidikan Calon Guru Penggerak


Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang paling ideal untuk memenuhi kebutuhan belajar murid. Pembelajaran berdiferensiasi juga sangat sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang dasar pendidikan yaitu berpihak pada murid.

Kebutuhan belajar murid adalah kesenjangan antara tujuan belajar yang akan dicapai murid dengan kesiapan, minat dan profil belajar murid saat sebelum memulai materi pembelajaran. Kebutuhan belajar murid dapat dipetakan dengan melihat 3 aspek, yaitu: kesiapan belajar murid, minat belajar murid dan profil belajar murid. Kebutuhan belajar ini menjadi dasar untuk melakukan kegiatan pembelajaran berdiferensiasi.

Selanjutnya strategi apa yang bisa Guru lakukan dalam kegiatan pembelajaran berdiferensiasi? Tiga strategi pembelajaran berdiferensiasi yang dapat dilakukan Guru di kelas, antaralain:

1.    Diferensiasi konten

Bagaimana melakukan diferensiasi konten? Konten adalah muatan materi yang kita ajarkan kepada murid di kelas, konten sebagai tanggapan respon atas kesiapan, minat atau profil belajar murid yang berbeda. Mengukur kesiapan murid bisa menggunakan equalizer berdasarkan pendapat Tomlinson. Diferensiasi konten juga bisa dilaksanakan berdasarkan minat murid, misalnya saat belajar teks narasi, Guru menyiapkan teks dengan hal-hal yang digemari murid. Sedangkan diferensiasi konten berdasarkan profil belajar murid dapat dilakukan dengan memastikan murid mengakses materi ajar sesuai dengan gaya belajarnya visual/ auditori/ kinestetik.

2.    Diferensiasi proses

Bagaimana murid memahami/ memaknai materi melalui skenario pembelajaran yang Guru rancang. Bagaimana cara melakukan diferensiasi proses? Misalnya: pertama, kegiatan berjenjang, setiap murid membangun pemahaman yang sama tetapi diberi tantangan yang berbeda tingkat kompleksitasnya sesuai kesiapan belajarnya. Kedua, pertanyaan pemandu atau tantangan yang perlu diselesaikan disudut-sudut minat sesuai hobi murid. Ketiga, membuat agenda individual misalnya, tugas umum satu kelas dan tugas sesuai kebutuhan individual. Kempat, memvariasikan lama waktu untuk murid ambil dalam menyelesaikan tugas. Kelima, mengembangkan kegiatan bervariasi yang mengakomodir beragam gaya belajar murid visual/ auditori/ kinestetik. Keenam, menggunakan pengelompokan yang fleksibel sesuai kesiapan, kemampuan dan minat.

3.    Diferensiasi produk

Tagihan apa yang kita harapkan dari murid, produk merupakan hasil pekerjaan/ unjuk kerja yang ditunjukkan murid kepada Guru, misalnya dalam bentuk karangan atau tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dll. Bagaimana cara mendiferensiasi produk? Menggambarkan yang sudah dipelajari murid dalam satu unit, satu semester bahkan satu tahun/ produk mewakili pemahaman murid. Diferensiasi produk pada dasarnya terbagi dua, yaitu: pertama, memberikan tantangan dan keragaman/ variasi. Kedua, memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan. 

Setelah memahami aspek apa saja terkait kebutuhan belajar murid dan strategi penerapan pembelajaran, selanjutnya untuk kelancaran dalam proses pembelajaran, maka diperlukan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi tersebut.

Apa yang dapat kita lakukan sebagai Guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi? Pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun berdasarkan learning community (komunitas belajar), yaitu komunitas yang semua anggotanya adalah pemelajar.

Careel dan Tomlinson dalam modul 2.1 pendidikan Guru Penggerak memberikan gambaran karakter komunitas tersebut:

  1. Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik;
  2. Ruang kelas akan dipenuhi oleh berbagai pekerjaan murid atau berbagai hal dimana murid    berperan di dalamnya;
  3. Setiap orang di dalam kelas tersebut saling menghargai;
  4. Guru membimbing murid agar perasaan siapapun di kelas tidak menjadi kecil akibat perbedaan;
  5. Murid akan merasa aman secara fisik dan psikis;
  6. Ada harapan bagi pertumbuhan, pertumbuhan satu murid adalah sebuah perayaan;
  7. Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan;
  8. Guru merancang pembelajaran yang sedikit melampaui apa yang murid ketahui saat ini, sehingga murid keluar dari zona nyaman dengan sedikit tantangan dan Guru membantu membimbing tantangan tersebut (scafoding);
  9. Ada keadilan dalam bentuk yang nyata, berusaha memastikan semua murid mendapatkan apa        yang dia butuhkan untuk tumbuh dan sukses; dan
  10. Guru dan siswa berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama.

Berikutnya apa peran asessmen/ atau penilaian dalam pembelajaran berdiferensiasi? Hakikatnya fungsi Guru melakukan asessmen terhadap murid adalah untuk menemukan kebutuhan belajar muridnya, yaitu terkait kesiapan, minat, dan profil belajarnya. Tanpa mengetahui kebutuhan belajar murid, akan sulit bagi Guru untuk bisa memberikan pengalaman belajar yang tepat untuk murid-muridnya.

Di dalam kelas, kita dapat memandang penilaian dalam 3 perspektif, yaitu:

1.    Assessment for learning

Penilaian yang dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran dan biasanya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berfungsi sebagai penilaian formatif.

2.    Assessment of learning

Penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Berfungsi sebagai penilaian sumatif

3.    Assessment as learning

Penilaian sebagai proses belajar dan melibatkan murid-murid secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut. Berfungsi sebagai penilaian formatif

 

Dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi, penilaian formatif memegang peranan yang sangat penting. Penilaian formatif dilakukan saat proses pembelajaran masih berlangsung. Penilaian formatif ini bersifat memonitor proses pembelajaran, dan dilakukan secara berkelanjutan serta konsisten, sehingga akan membantu Guru untuk memantau pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan murid yang berkembang terkait dengan topik atau materi yang sedang dipelajari.

Hasil dari penilaian ini akan menjadi sumber yang sangat berharga untuk mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid.

Bagaimana cara Guru melakukan penilaian formatif dengan sederhana? Pilihlah minimal satu cara di bawah, yang dapat dipertimbangkan lebih efektif dengan memperhatikan ketersediaan waktu jam pelajaran:

  • Tiket keluar: Guru memberikan pertanyaan yang diajukan kepada semua murid sebelum kelas berakhir.
  • Tiket masuk: Guru juga bisa memberikan sebuah pertanyaan kepada semua murid sebelum pelajaran dimulai.
  • Berbagi 30 detik: murid secara bergiliran berbagi apa yang telah ia pelajari dalam pelajaran selama 30 detik.
  • Nama dalam toples: Guru bisa meminta murid menulis nama mereka di selembar potongan kertas & kemudian memasukkannya dalam toples. Guru kemudian bisa mengajukan sebuah pertanyaan tentang konsep kunci yang sedang dipelajari, kemudian secara random mengambil sebuah potongan kertas di toples.
  • Model 3-2-1: 3 hal yang tidak murid ketahui sebelumnya, 2 hal yang mengejutkan murid tentang topik tersebut, 1 hal yang ingin murid mulai lakukan dengan apa yang telah dipelajari.
  • Refleksi: Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman murid dan apa yang masih menjadi kebingungan mereka.
  • Pojok pemahaman: Minta murid pergi ke pojok-pojok kelas sesuai dengan pemahaman mereka.
  • Strategi 5 jari: Minta murid mendeskripsikan pemahaman mereka terkait topik yang diajarkan dengan menggunakan 5 jari. 5 jika mereka sudah paham sekali, 1 jika mereka tidak paham sama sekali.

Terakhir, dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi memang tidak semudah dengan memahami konsepnya, terdapat berbagai kendala agar mencapai posisi ideal dan benar-benar bisa memenuhi kebutuhan belajar murid di kelas, misalnya dalam mengakomodir profil belajar murid terkait gaya belajar visual, auditori dan kinestetik dalam strategi pembelajaran berdiferensiasi proses. Dengan memahami diferensiasi proses yang identik dengan metode belajar yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan belajar murid, jika di kelas terdapat 3 gaya belajar yang berbeda, maka efektifitas belajar sulit terwujud jika Guru hanya menggunakan satu metode pembelajaran saja untuk mengakomodir semua kebutuhan murid. Butuh variasi ragam kegiatan pembelajaran lintas metode untuk mengakomodir gaya belajar murid di topang dengan nilai-nilai dan peran kreativitas Guru.

 

Selamat mencoba, demi pendidikan yang berpihak kepada murid, murid dan murid.


Sabtu, 24 Agustus 2024

DISEMINASI PEMAHAMAN DAN PENGALAMAN PENERAPAN BUDAYA POSITIF SEKOLAH



Diterbitkan : 24 Agustus 2024

Sumber : LMS Guru Penggerak Modul 1.4 Budaya Positif

Penulis : Dheny Kusdyantoro, M.Pd., CGP A11, Kota Pekanbaru, Propinsi Riau

Tempat : SMP Negeri 32 Pekanbaru


PEMAHAMAN KONSEP BUDAYA POSITIF


Ki Hadjar Dewantara menggambarkan dalam menuntun murid seperti seorang petani yang harus memastikan lingkungan dan kondisi tanah cocok untuk tumbuh kembang tanamannya. Hal yang sama dengan lingkungan kelas/ sekolah harus kondusif, nyaman, suasana lingkungan yang positif sehingga mampu menumbuhkembangkan nilai-nilai kebajikan murid agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia atau anggota masyarakat. Oleh karena itu, menciptakan budaya positif di sekolah sangatlah penting untuk mampu mengembangkan murid dengan nilai-nilai kebajikan sesuai profil pelajar Pancasila, yaitu beriman bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkhebinekaan global, gotong royong, mandiri, kreatif dan bernalar kritis.

Selanjutnya, bagaimanakah cara untuk mewujudkan budaya positif di sekolah? Budaya positif dapat diawali dengan melakukan penerapan disiplin positif di kelas-kelas. Dalam disiplin positif murid diposisikan agar belajar dari kesalahan-kesalahan terkait tindakan/ perilaku melanggar kesepakatan bersama. Hal ini sesuai arti kata disiplin sendiri yang berasal dari bahasa Latin, yaitu ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Selain itu, pendekatan ini selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang dasar pendidikan yaitu pelayanan yang berpihak kepada murid.

Strategi mewujudkan displin positif di kelas maupun di sekolah memiliki tahapan penerapannya, berangkat dari sosialisasi pemahaman bersama warga sekolah tentang perubahan paradigma belajar dari teori stimulus respon ke teori kontrol Dr. William Glasser, memahami makna disiplin positif dan nilai-nilai kebajikan universal, memahami motivasi perilaku manusia, memahami kebutuhan dasar manusia, mampu mengubah peraturan-peraturan kelas/ sekolah menjadi nilai-nilai keyakinan kelas/ sekolah, mengerti posisi kontrol Guru yang lebih berpihak kepada murid, dan mampu menyelesaikan masalah murid/ tindakan melanggar keyakinan kelas/ sekolah dengan pendekatan segitiga restitusi.

SMP Negeri 32 Pekanbaru tentunya selama ini telah berusaha menumbuhkan lingkungan sekolah yang positif dengan adanya “buku saku murid” yang berisi tata tertib dan aturan-aturan disiplin dan interaksi sosial dalam rangka membentuk nilai-nilai kebajikan dari profil pelajar Pancasila. Namun, setelah mempelajari modul 1.4 budaya positif sekolah, Saya berfikir perlu melakukan refleksi apakah konsep selama ini yang berjalan sesuai dengan asal kata disiplin yang sebenarnya atau hanya berupa kumpulan aturan-aturan yang disertai hukuman dalam bentuk sesuai keinginan Guru yang menangani? Apakah posisi kontrol Guru selama ini sudah sesuai konsep berpihak kepada murid? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sangat perlu didiskusikan bersama oleh seluruh warga sekolah.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dipikir perlu untuk melakukan pengimbasan pemahaman konsep budaya positif di lingkungan sekolah, agar penegakan disiplin di kelas maupun sekolah berjalan sesuai konsep teori kontrol dan yang terpenting mampu memberikan pelayanan terbaik, lebih berpihak kepada murid.


Perubahan Paradigma Belajar

Terjadi pergeseran dari teori stimulus respon menjadi teori kontrol Dr. William Glasser. Beberapa pernyataan terkait teori kontrol, “Anda tidak bisa mengontrol oranglain, hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda” pernyataan ini memunculkan makna disiplin baru yaitu belajar kontrol diri dengan menggali potensi kita menjadi seseorang yang kita inginkan berdasarkan nilai-nilai yang kita hargai.

“Semua perilaku memiliki tujuan” dengan memahami teori motivasi, yaitu menumbuhkan manusia berperilaku untuk menghargai diri sendiri, akan mampu mewujudkan motivasi intrinsik yang berasal dari nilai-nilai kebajikan universal yang diyakini.

Berikutnya “model berfikir menang-menang”, “kolaborasi dan konsensus, menciptakan pilihan-pilhan baru” terwujud dengan memahami 5 posisi kontrol. Dalam rangka menumbuhkan motivasi intrinsik maka posisi kontrol yang sangat dianjurkan adalah sebagai ‘manajer’ dengan pendekatan segitiga restitusi dalam penyelesaian masalah melanggar disiplin.

Terakhir “realitas (kebutuhan) kita berbeda”, “kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia”, “setiap orang memiliki gambaran berbeda” dapat terwujud dengan memahami 5 kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan ini juga difasilitasi dalam tahapan segitiga restitusi.

Jadi kesimpulannya adalah teori kontrol lebih tepat untuk menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah, selain itu selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang dasar pendidikan yang berpihak kepada murid.

Disiplin Positif dan Nilai Kebajikan Universal

Disiplin positif adalah salah satu cara mewujudkan budaya positif kelas atau sekolah, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah “ada disiplin yang kuat”. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang berasal dari motivasi intrinsik.

Guru dapat berperan dalam menciptakan budaya postitif di kelas maupun di sekolah dengan melakukan penegakan disiplin positif kepada murid yang berasal dari kesadaran akan nilai-nilai kebajikan universal yang dipercaya kelas atau sekolah. Biarkan murid belajar dari kesalahan yang mereka lakukan, dan belajar memperbaiki berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal tersebut.

Lantas apa itu nilai-nilai kebajikan universal? yaitu nilai-nilai kebajikan/ karakter yang dipilih ditentukan dan diyakini/ disepakati oleh seluruh warga sekolah, biasanya tertulis dalam visi sekolah yang berasal dari dimensi dan elemen profil pelajar Pancasila.

Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan,  Restitusi

Semua perilaku manusia memiliki tujuan, tujuan tersebut menurut Diane Gossen terbagi menjadi tiga, yaitu, pertama manusia berperilaku untuk menghindari ketidaknyamanan/ hukuman, kedua manusia berperilaku untuk mendapatkan imbalan/ penghargaan dari orang lain, dan ketiga manusia berperilaku untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.

Perilaku melanggar nilai-nilai keyakinan kelas maupun sekolah yang dilakukan murid juga pasti didasari oleh motivasi yang menyertainya sesuai paparan di atas. Oleh karena itu, sebagai Guru kita dapat merespon perilaku murid tersebut dalam kategori penegakan disiplin mengarah identitas gagal dan penegakan disiplin identitas sukses (disiplin positif). Identitas gagal berupa tindakan hukuman dan penghargaan, sedangkan identitas sukses yang harus dipilih Guru adalah melakukan respon dengan tindakan restitusi, minimal konsekuensi. Restitusi adalah respon Guru terhadap perilaku murid dengan menjadikan kesalahan sebagai proses belajar, murid menyadari kesalahan dan mampu memberikan solusi atau ide, gagasan untuk mengatasi keadaan sendiri. Sedangkan konsekuensi merupakan kumpulan peraturan-peraturan kelas/ sekolah yang bentuk konsekuensinya sudah diketahui dan disepakati oleh murid beserta warga sekolah. Selanjutnya dalam rangka mewujudkan budaya positif di kelas maupun sekolah, maka respon Guru yang sangat dianjurkan dalam penegakan disiplin adalah restitusi.


Keyakinan Kelas

Keyakinan kelas itu berbeda dengan peraturan kelas, keyakinan kelas bersifat abstrak daripada peraturan yang lebih rinci dan konkrit. Peraturan-peraturan kelas dapat diambil nilai-nilai kebajikan universalnya untuk menjadi sebuah keyakinan kelas. Jadi, nilai-nilai kebajikan yang ingin ditumbuhkan atau menjadi visi sekolah dapat menjadi landasan dalam membuat keyakinan kelas maupun sekolah.

Dalam konteks menciptakan budaya positif kelas maupun sekolah, peran Guru dapat mendorong murid untuk membuat peraturan-peraturan yang disepakati bersama, menemukan nilai-nilai kebajikan setiap peraturan tersebut untuk dijadikan sebuah keyakinan kelas/ sekolah. Selanjutnya keyakinan kelas/ sekolah yang sudah terbentuk bisa menjadi landasan dalam penegakan disiplin positif sekolah.

Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas

Kebutuhan dasar manusia menurut Dr. William Glasser terbagi menjadi 5, yaitu: kebutuhan bertahan hidup, kebutuhan kasih sayang dan rasa diterima, kebutuhan pengakuan atas kemampuan/ penguasaan, kebutuhan akan pilihan/ kebebasan, dan kebutuhan untuk merasa senang/ kesenangan.

Jadi, semua perilaku manusia termasuk perilaku baik buruk pasti dalam rangka memenuhi salah satu kebutuhan dasar tersebut, termasuk murid-murid kita di kelas maupun sekolah. Dalam konteks penegakan disiplin positif untuk mewujudkan budaya positif di kelas maupun sekolah, Guru harus senantiasa menggali informasi membudayakan dialog mencari tahu alasan dibalik perilaku melanggar murid. Hal ini penting untuk mendeteksi kebutuhan dasar apa yang belum terpenuhi murid hingga berdampak pada perilaku melanggar nilai-nilai kebajikan yang sudah disepakati bersama.

Selanjutnya Guru wajib menuntun/ mengarahkan murid memenuhi kebutuhan dasarnya dengan cara yang positif, supaya peran Guru bisa menjadi dunia berkualitas/ mendapatkan tempat khusus dalam pikiran murid.


Posisi Kontrol - Restitusi

Lima posisi kontrol Guru dalam rangka penegakan disiplin di kelas maupun sekolah adalah: posisi kontrol sebagai penghukum, sebagai pembuat merasa bersalah, sebagai teman, sebagai pemantau, dan posisi kontrol sebagai manajer.

Dalam rangka penegakan disiplin positif untuk mewujudkan budaya positif di kelas maupun sekolah, posisi kontrol restitusi yang ideal, terbaik dan sangat dianjurkan adalah sebagai manajer, karena akan melahirkan murid dengan karakter tanggung jawab, mandiri, serta merdeka. Sementara posisi kontrol yang harus dihindari adalah sebagai penghukum dan pembuat merasa bersalah, karena merupakan perilaku kontrol negatif yang berakibat pada identitas gagal pada  murid.


Segitiga Restitusi

Cara menerapkan posisi kontrol sebagai manajer di atas, yaitu dengan pendekatan segitiga restitusi. Guru menerapkan tiga langkah dalam menangani perilaku/ sikap murid yang melanggar keyakinan kelas/ sekolah. Tiga tahapan tersebut adalah diawali menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan kelas/ sekolah.

Jika murid melakukan pelanggaran dari nilai-nilai kebajikan universal/ keyakinan kelas yang sudah disepakatai bersama, maka proseslah menggunakan pendekatan segitiga restitusi. Proses ini akan menumbuhkan karakter murid yang mandiri, tanggung jawab dan merdeka. Karena murid dilatih belajar dari kesalahan-kesalahan, dan mampu menyelesaikan masalah yang berasal dari ide, gagasaan sendiri.

Akhirnya kesimpulan terakhir yang dapat Saya sampaikan adalah dengan posisi kontrol sebagai manajer dengan cara menerapkan segitiga restitusi di kelas maupun sekolah, merupakan pendekatan pilihan utama dalam penegakan disiplin positif agar terwujud budaya positif di sekolah.

Selanjutnya, Saya akan menunjukkan contoh demonstrasi segitiga restitusi dalam menangani murid yang melanggar nilai-nilai keyakinan kelas dalam bentuk video, melalui link YouTube pribadi berikut: https://youtu.be/dBQecBk7Ors

Demikian paparan materi inti yang Saya diseminasi kepada rekan sejawat di lingkungan SMP Negeri 32 Pekanbaru. Berdasarkan hasil refleksi dan diskusi tanya jawab, banyak yang menyadari bahwa keyakinan kelas yang selama ini dibuat perlu direvisi dengan menggali nilai-nilai kebajikannya, selanjutnya Guru masih belum mencapai posisi kontrol sebagai manajer, bahkan ada yang menyadari selama ini banyak sebagai penghukum dan pembuat merasa bersalah terhadap penegakan disiplin kelas maupun sekolah.

Selanjutnya demi mewujudkan terciptanya budaya positif di lingkungan SMP Negeri 32 Pekanbaru, maka diperlukan komitmen bersama untuk bisa berubah sesuai konsep teori kontrol Dr. William Glasser agar sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara tentang dasar pendidikan, yaitu berpihak kepada murid, murid dan murid.

 


AKSI NYATA MEMBUAT KEYAKINAN KELAS

      





       Langkah-langkah membuat keyakinan kelas, sebagai berikut: (1) murid di kelas bercurah pendapat tentang peraturan yang perlu disepakati; (2) menempel semua masukan-masukan murid di papan tulis dengan media sticky notes; (3) menyusun keyakinan kelas, mengganti kalimat negatif menjadi positif; (4) tinjau kembali daftar curah pendapat yang sudah dicatat, menemukan nilai kebajikan atau keyakinan dari peraturan-peraturan tersebut; (5) tinjau ulang nilai-nilai keyakinan kelas secara bersama-sama (maksimal 3-7 prinsip/ keyakinan); (6) membuat pernyataan bersama keyakinan kelas; (7) tinjau ulang kalimat pernyataan, revisi jika diperlukan; dan (8) mencetak keyakinan kelas, tanda tangan bersama dan pajang didinding kelas.

Selanjutnya, Saya akan menunjukkan contoh aksi nyata dalam bentuk video, bagaimana cara/ langkah-langkah Guru dalam memimpin diskusi membentuk keyakinan kelas melalui link video YouTube berikut, semoga lebih memahami: https://youtu.be/gPUx3FBYDKI




RANCANGAN TINDAKAN AKSI NYATA DISEMINASI/ PENGIMBASAN PEMAHAMANBUDAYA POSITIF DI SMP NEGERI 32 PEKANBARU




1.       Latar Belakang

Budaya positif di SMP Negeri 32 Pekanbaru belum terwujud secara maksimal, hal ini bisa terjadi kemungkinan warga sekolah belum memahami konsep inti budaya positif, yang terdiri dari perubahan paradigma belajar dari teori stimulus respon menjadi teori kontrol Dr. William Glasser, pemahaman disiplin positif dan nilai kebajikan universal, pemahaman teori motivasi, hukuman dan penghargaan, restitusi. Berikutnya belum memahami dengan benar langkah-langkah membuat keyakinan kelas, belum memahami kebutuhan dasar manusia dan dunia berkualitas, belum memiliki pilihan posisi kontrol - restitusi, dan belum menguasai keterampilan penanganan perilaku melanggar murid dengan tahapan segitiga restitusi.

Minimnya pemahaman konsep teori kontrol tersebut hingga berdampak pada lingkungan sekolah yang belum mengakomodir pelayanan pendidikan yang berpihak kepada murid, khususnya dalam penegakan disiplin positif di kelas maupun sekolah.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu dilaksanakan sebuah aksi nyata dalam bentuk diseminasi/ pengimbasan pemahaman kepada rekan sejawat di lingkungan SMP Negeri 32 Pekanbaru, agar mampu kolaborasi bersama, bergerak menumbuhkan budaya positif sekolah melalui konsep dan teori yang benar.

 

2.        Tujuan

Adapun tujuan tindakan aksi nyata, sebagai berikut: (1) meningkatkan pemahaman rekan sejawat terkait budaya positif sekolah, konsep dan teori pendukungnya, serta tahapan penerapannya, sehingga layanan pendidikan yang berpihak kepada murid terwujud; (2) terbentuknya motivasi internal murid melalui penegakan disiplin positif di kelas maupun di sekolah dengan pendekatan segitiga restitusi; (3) terwujudnya budaya positif kelas dan sekolah.

 

3.        Tolok Ukur

Adapun tolok ukur tindakan aksi nyata, sebagai berikut: (1) terlaksananya desiminasi pemahaman budaya positif di sekolah, terkait konsep, teori pendukung dan tahapan penerapannya secara kontekstual; (2) terciptanya keyakinan kelas, melalui kesepakatan wali kelas dengan murid; (3) warga sekolah saling kolaborasi dan konsisten dalam menegakan disiplin positif, berdasarkan landasan keyakinan kelas dan keyakinan sekolah yang sudah disepakati bersama; dan (4) posisi kontrol Guru sudah sebagai manajer dalam mengontrol murid, serta mampu melakukan pendekatan segitiga restitusi dalam menyelesaikan perilaku melanggar murid terhadap keyakinan kelas/ sekolah.

 

4.        Linimasa Tindakan yang Akan Dilakukan

Linimasa tindakan yang akan dilakukan terdiri dari: (1) koordinasi dengan Kepala Sekolah sekaligus ketua komunitas belajar bijak bestari SMP Negeri 32 Pekanbaru; (2) melakukan desiminasi konsep budaya positif dengan contoh yang kontekstual di kelas maupun sekolah; dan (3) wali kelas bersama murid membuat keyakinan kelas dan menempelkannya di dinding kelas atau grup WA kelas.

 

5.        Dukungan yang Dibutuhkan

Dukungan yang dibutuhkan dalam melakukan tindakan aksi nyata: (1) Kepala Sekolah sekaligus Ketua komunitas belajar SMP Negeri 32 Pekanbaru; (2) Wakasek Kesiswaan, seluruh Wali Kelas dan Guru Bimbingan Konseling; (3) rekan sejawat sesama Guru; (4) murid; dan (5) sarana prasarana membuat keyakinan kelas/ sekolah, antara lain papan tulis, spidol, kertas tempel, aplikasi canva, percetakan poster, dll.

Terakhir, Saya akan menunjukkan dokumentasi video aksi nyata diseminasi/ pengimbasan pemahaman budaya positif di lingkungan SMP Negeri 32 Pekanbaru, melalui link YouTube berikut, semoga menginspirasi: https://youtu.be/hpLxDxy8odk