Oleh:
Dheny Kusdyantoro, M.Pd
Sumber: LMS Pendidikan Calon Guru Penggerak
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang
paling ideal untuk memenuhi kebutuhan belajar murid. Pembelajaran
berdiferensiasi juga sangat sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang
dasar pendidikan yaitu berpihak pada murid.
Kebutuhan belajar murid adalah kesenjangan antara tujuan belajar yang akan dicapai murid dengan kesiapan, minat dan profil belajar murid saat sebelum memulai materi pembelajaran. Kebutuhan belajar murid dapat dipetakan dengan melihat 3 aspek, yaitu: kesiapan belajar murid, minat belajar murid dan profil belajar murid. Kebutuhan belajar ini menjadi dasar untuk melakukan kegiatan pembelajaran berdiferensiasi.
Selanjutnya strategi apa yang bisa Guru lakukan dalam
kegiatan pembelajaran berdiferensiasi? Tiga strategi pembelajaran
berdiferensiasi yang dapat dilakukan Guru di kelas, antaralain:
1. Diferensiasi konten
Bagaimana melakukan diferensiasi konten? Konten adalah
muatan materi yang kita ajarkan kepada murid di kelas, konten sebagai tanggapan
respon atas kesiapan, minat atau profil belajar murid yang berbeda. Mengukur
kesiapan murid bisa menggunakan equalizer
berdasarkan pendapat Tomlinson. Diferensiasi konten juga bisa dilaksanakan
berdasarkan minat murid, misalnya saat belajar teks narasi, Guru menyiapkan
teks dengan hal-hal yang digemari murid. Sedangkan diferensiasi konten
berdasarkan profil belajar murid dapat dilakukan dengan memastikan murid
mengakses materi ajar sesuai dengan gaya belajarnya visual/ auditori/
kinestetik.
2. Diferensiasi proses
Bagaimana murid memahami/ memaknai materi melalui
skenario pembelajaran yang Guru rancang. Bagaimana cara melakukan diferensiasi
proses? Misalnya: pertama, kegiatan berjenjang, setiap murid membangun
pemahaman yang sama tetapi diberi tantangan yang berbeda tingkat
kompleksitasnya sesuai kesiapan belajarnya. Kedua, pertanyaan pemandu atau
tantangan yang perlu diselesaikan disudut-sudut minat sesuai hobi murid.
Ketiga, membuat agenda individual misalnya, tugas umum satu kelas dan tugas
sesuai kebutuhan individual. Kempat, memvariasikan lama waktu untuk murid ambil
dalam menyelesaikan tugas. Kelima, mengembangkan kegiatan bervariasi yang
mengakomodir beragam gaya belajar murid visual/ auditori/ kinestetik. Keenam,
menggunakan pengelompokan yang fleksibel sesuai kesiapan, kemampuan dan minat.
3. Diferensiasi produk
Tagihan apa yang kita harapkan dari murid, produk merupakan hasil pekerjaan/ unjuk kerja yang ditunjukkan murid kepada Guru, misalnya dalam bentuk karangan atau tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dll. Bagaimana cara mendiferensiasi produk? Menggambarkan yang sudah dipelajari murid dalam satu unit, satu semester bahkan satu tahun/ produk mewakili pemahaman murid. Diferensiasi produk pada dasarnya terbagi dua, yaitu: pertama, memberikan tantangan dan keragaman/ variasi. Kedua, memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.
Setelah memahami aspek apa saja terkait kebutuhan
belajar murid dan strategi penerapan pembelajaran, selanjutnya untuk kelancaran
dalam proses pembelajaran, maka diperlukan lingkungan belajar yang mendukung
pembelajaran berdiferensiasi tersebut.
Apa yang dapat kita lakukan sebagai Guru untuk
menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi?
Pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun berdasarkan learning community (komunitas belajar), yaitu komunitas yang semua
anggotanya adalah pemelajar.
Careel dan Tomlinson dalam modul 2.1 pendidikan Guru
Penggerak memberikan gambaran karakter komunitas tersebut:
- Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik;
- Ruang kelas akan dipenuhi oleh berbagai pekerjaan murid atau berbagai hal dimana murid berperan di dalamnya;
- Setiap orang di dalam kelas tersebut saling menghargai;
- Guru membimbing murid agar perasaan siapapun di kelas tidak menjadi kecil akibat perbedaan;
- Murid akan merasa aman secara fisik dan psikis;
- Ada harapan bagi pertumbuhan, pertumbuhan satu murid adalah sebuah perayaan;
- Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan;
- Guru merancang pembelajaran yang sedikit melampaui apa yang murid ketahui saat ini, sehingga murid keluar dari zona nyaman dengan sedikit tantangan dan Guru membantu membimbing tantangan tersebut (scafoding);
- Ada keadilan dalam bentuk yang nyata, berusaha memastikan semua murid mendapatkan apa yang dia butuhkan untuk tumbuh dan sukses; dan
- Guru dan siswa berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama.
Berikutnya apa peran asessmen/ atau
penilaian dalam pembelajaran berdiferensiasi? Hakikatnya fungsi Guru melakukan asessmen terhadap murid adalah untuk
menemukan kebutuhan belajar muridnya, yaitu terkait kesiapan, minat, dan profil
belajarnya. Tanpa mengetahui kebutuhan belajar murid, akan sulit bagi Guru
untuk bisa memberikan pengalaman belajar yang tepat untuk murid-muridnya.
Di dalam kelas, kita dapat memandang penilaian dalam 3
perspektif, yaitu:
1. Assessment for learning
Penilaian yang dilakukan selama
berlangsungnya proses pembelajaran dan biasanya digunakan sebagai dasar untuk
melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berfungsi sebagai penilaian
formatif.
2. Assessment of learning
Penilaian yang
dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Berfungsi sebagai penilaian
sumatif
3. Assessment as learning
Penilaian
sebagai proses belajar dan melibatkan murid-murid secara aktif dalam kegiatan
penilaian tersebut. Berfungsi sebagai penilaian formatif
Dalam praktik pembelajaran
berdiferensiasi, penilaian formatif memegang peranan yang sangat penting. Penilaian
formatif dilakukan saat proses pembelajaran masih berlangsung. Penilaian
formatif ini bersifat memonitor proses pembelajaran, dan dilakukan secara
berkelanjutan serta konsisten, sehingga akan membantu Guru untuk memantau
pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan murid yang berkembang terkait dengan
topik atau materi yang sedang dipelajari.
Hasil
dari penilaian ini akan menjadi sumber yang sangat berharga untuk
mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid.
Bagaimana cara Guru melakukan penilaian formatif dengan sederhana? Pilihlah minimal satu cara di bawah, yang dapat dipertimbangkan lebih efektif dengan memperhatikan ketersediaan waktu jam pelajaran:
- Tiket keluar: Guru memberikan pertanyaan yang diajukan kepada semua murid sebelum kelas berakhir.
- Tiket masuk: Guru juga bisa memberikan sebuah pertanyaan kepada semua murid sebelum pelajaran dimulai.
- Berbagi 30 detik: murid secara bergiliran berbagi apa yang telah ia pelajari dalam pelajaran selama 30 detik.
- Nama dalam toples: Guru bisa meminta murid menulis nama mereka di selembar potongan kertas & kemudian memasukkannya dalam toples. Guru kemudian bisa mengajukan sebuah pertanyaan tentang konsep kunci yang sedang dipelajari, kemudian secara random mengambil sebuah potongan kertas di toples.
- Model 3-2-1: 3 hal yang tidak murid ketahui sebelumnya, 2 hal yang mengejutkan murid tentang topik tersebut, 1 hal yang ingin murid mulai lakukan dengan apa yang telah dipelajari.
- Refleksi: Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman murid dan apa yang masih menjadi kebingungan mereka.
- Pojok pemahaman: Minta murid pergi ke pojok-pojok kelas sesuai dengan pemahaman mereka.
- Strategi 5 jari: Minta murid mendeskripsikan pemahaman mereka terkait topik yang diajarkan dengan menggunakan 5 jari. 5 jika mereka sudah paham sekali, 1 jika mereka tidak paham sama sekali.
Terakhir, dalam penerapan pembelajaran
berdiferensiasi memang tidak semudah dengan memahami konsepnya, terdapat
berbagai kendala agar mencapai posisi ideal dan benar-benar bisa memenuhi
kebutuhan belajar murid di kelas, misalnya dalam mengakomodir
profil belajar murid terkait gaya belajar visual, auditori dan kinestetik dalam
strategi pembelajaran berdiferensiasi proses. Dengan memahami diferensiasi
proses yang identik dengan metode belajar yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan
belajar murid, jika di kelas terdapat 3 gaya belajar yang berbeda, maka efektifitas
belajar sulit terwujud jika Guru hanya menggunakan satu metode pembelajaran saja
untuk mengakomodir semua kebutuhan murid. Butuh variasi ragam kegiatan
pembelajaran lintas metode untuk mengakomodir gaya belajar murid di topang
dengan nilai-nilai dan peran kreativitas Guru.
Selamat mencoba, demi pendidikan yang berpihak kepada murid, murid dan
murid.












